FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN
“FILSAFAT
BARAT ABAD PERTENGAHAN “
MATA KULIAH : PENGANTAR FILSAFAT
DOSEN
PENGAMPU : WIRA SUGIARTO, S.IP, M.Pd.I
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
FIZA HARIANI
REZKY WAHYU
SITI AMINAH
SRI HARTATI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) BENGKALIS
JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI EKONOMI SYARIAH
T.A 2017M/1439H
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah pada mata kuliah
pengantar filsafat dengan judul “Filsafat Barat Abad Pertengahan”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen pembimbing agar bisa dipresentasekan dan bermanfaat sebagai pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan, maka
dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan pada tugas selanjutnya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan
sumbangan untuk menambah wawasan keilmuan, terutama mengenai sejarah tentang filsafat barat abad pertengahan.
Bengkalis, 27 Oktober 2017
Kelompok II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang ......................................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah .................................................................................... 2
C.
Tujuan
Masalah.........................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
Filsafat
Barat Abad Pertengahan.................................................................... 3
A.
Masa Patristik.............................................................................................
4
B. Masa Skolastik............................................................................................ 7
C.Masa
Peralihan............................................................................................. 14
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan Dan
Saran....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat
yunani mengalami kemegahan dan
kejayaannya dengan hasil yang
sangat gemilang, yaitu melahirkan
peradaban yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat, peradaban yunani
merupakan titik tolak peradaban didunia. Giliran selanjutnya adalah warisan
peradaban yunani jatuh ketangan kekuasaan romawi. Kekuasan romawi
memperlihatkan kebesaran dan kekuasaannya hingga daratan Eropa(Britania),dan
filsat yunani juga ikut terbawa.
Setelah filsafat yunani sampai kedaratan
eropa,disana mendapatkan lahan baru dalam pertumbuhannya, filsafat yunani
berintegrasi dengan agama Kristen, sehingga membentuk suatu formulasi baru,maka
muncullah filsafat eropa yang sesungguhnya sebagai penjelmaan filsafat yunani
setelah berintegrasi dengan agama
Kristen.
Abad pertengahan merupakan kurun waktu
yang sangat khas. Secara singkat dikatakan bahwa dominasi agama Kristen pada
abad ini sangatlah menonjol. Perkembangan alam pikiran harus disesuaikan dengan
ajaran agama. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di
tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru pula yaitu bangsa Eropa Barat.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan filsafat Eropa (sekitar lima abad) belum
memunculkan ahli pikir (filosuf). Akan tetapi setelah abad ke-6 masehi, baru
muncul ahli pikir yang mengadakan penyelidikan filsafat.
Filsafat Barat abad pertengahan ini dikatakan sebagai abad kegelapan.
Berdasarkan pada pendekatan sejarah Gereja, saat itu tindakan Gereja sangat
membelenggu kehidupan manusia. Manusia tidak memiliki kebebasan untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli berpendapat bahwa
pada saat itu juga manusia tidak mempunyai kebebasan berpikir. Apalagi
terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama
Gereja. Siapapun orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak
Gereja akan melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan yang mengarah kepada
rasio (akal) terhadap keyakinan (agama). Karena itu kajian terhadap agama
(teologi) yang tidak berdasarkan ketentuan Gereja akan mendapatkan larangan
ketat. Yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak
Gereja. Kendati demikian, ada juga yang melanggar peraturan tersebut dan mereka
dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkuisisi).
Abad pertengahan ditandai dengan berintegrasinya filsafat Yunani dengan
agama Kristen sehingga memungkinkan adanya perkembangan dengan pembaharuan
dalam filsafat karena adanya pengaruh agama Kristen. Dimasa ini penuh dengan
dominasi Gereja. Tujuannya adalah untuk membimbing umat kearah hidup yang saleh
tetapi menjadi salah karena dalam pelaksanaanya tanpa memikirkan
martabat dan kebebasan manusia mengengkang pemikiran-pemikiran dan masa
depan mereka, karena itu pula pada masa ini perkembangan ilmu pengetahuan
terhambat.
Abad Pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu
pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, Sehingga
aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi
ilmu pada masa ini adalah ancilla
theologia atau abdi agama. Namun
demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan bidang ilmu yang terjadi pada
masa ini. Periode abad pertengahan
mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan ini
terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen pada permulaan abad
masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan agama. Abad pertengahan
adalah abad keemasan bagi kekristenan. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan
filsafat pada abad pertengahan, secara garis
besar di dalam makalah ini penulis akan membahas tentang perkembangan filsafat
pada abad pertengahan.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apakah Itu Filsafat Barat Abad
Pertengahan?
2.
Apa Yang Dimaksud Dengan Masa
Patristik?
3.
Apa Yang Dimaksud Dengan Masa
Skolastik?
4.
Dan Apa Yang Dimaksud Dengan Masa
Peralihan?
C. Tujuan
Masalah
1.
Menjelaskan apa itu filsafat barat
abad pertengahan.
2.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan masa patristic.
3.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan masa skolastik
4.
Dan untuk mengetahui pengertian dari
masa peralihan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Filsafat Barat Abad
Pertengahan
Sejarah
filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad
ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya
Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi
Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data
awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh
Columbus) sebagai data akhirnya.
Masa ini
diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat
Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada
Abad Pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran
filsafat Abad Pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan
selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya
bersifat teosentris.
Adapun istilah Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17)
sesungguhnya hanya berfungsi membantu kita untuk memahami zaman ini sebagai
zaman peralihan (masa transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting
sesudah dan sebelumnya, yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern
yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.
Filsafat
Yunani mengalami kemegahan dan kejayaan dengan hasil yang sangat gemilang,
yaitu melahirkan peradaban Yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat,
dikemukakan bahwa peradaban Yunani merupakan titik tolak peradaban manusia di
dunia. Maka pandangan sejarah filsafat dikemukakan bahwa peradaban Yunani
merupakan titik tolak peradaban manusia di dunia. Giliran selanjutnya adalah
warisan peradaban Yunani jatuh ketangan kekuasaan Romawi. Kekuasaan Romawi
memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan hingga daratan Eropa (Britania), tidak
ketinggalan pula pemikiran Filsafat Yunani juga ikut terbawa. Kaisar Augustus yang
menciptakan masa keemasan kesusastraan Latin, kesenian, dan arsitektur Romawi.
Setelah
filsafat Yunani sampai kedaratan Eropa, disana mendapatkan
lahan baru dalam pertumbuhannya. Karena bersama dengan
agama Kristen, filsafat Yunani berintegrasi dengan agama Kristen sehingga
membentuk formulasi baru. Maka, muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya
sebagai penjelmaan filsafat Yunani setelah berintegrasi dengan
agama kristen. Dalam masa pertumbuhan
dan perkembangan filsafat Eropa (kira-kira selama 5 abad) belum
muncul ahli fikir (filosof), akan tetapi setelah abad ke-6 M, barulah muncul
para ahli fikir yang mengadakan penyelidikan filsafat. Jadi, filsafat Eropa
yang mengawali kelahiran filsafat barat pada abad pertengahan.
Kekuatan
pengaruh antara filsafat Yunani dengan agama Kristen dikatakan
seimbang pengaruhnya. Karena apabila tidak seimbang pengaruhnya, tidak mungkin
berintegrasi membentuk sesuatu formula baru keberadaannya, tetapi
pada saat itu muncul anggapan yang sama terhadap filsafat Yunani ataupun agama
kristen. Anggapan pertama, bahwa tuhan turun ke Bumi (Dunia) dengan membawa
kabar baik bagi umat manusia. Kabar baik tersebut berupa firman Tuhan yang
dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang sempurna dan sejati. Anggapan kedua,
bahwa walaupun orang-orang telah mengenal agama baru, akan tetapi ia juga telah
mengenal filsafat Yunani yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang tidak
diragukan lagi kebenarannya.
Dengan
demikian, di benua Eropa filsafat Yunani akan tumbuh dan berkembang dalam
suasana yang lain. Filsafat Eropa merupakan sesuatu yang baru, suatu formulasi
baru, pohon filsafat masih yang lama (dari Yunani), tetapi tunas yang
baru (karena pengaruh agama Kristen) memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan
yang rindang.
Filsafat
Barat abad pertengahan (476-1492) juga dapat dikatakan sebagai “abad gelap“.
Pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah
gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat memebelenggu
kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli pikir
pada saat itu pun tidak memiliki kebebasan berfikir. Pihak gereja melarang
diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena
itu, kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan
mendapatkan larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian
diadakan pengejaran (inkuisisi). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini
mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan yang
paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di spanyol.[1]
Agama
Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah
yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pendangan yunani
kuno yang mengatakan bahwa kebanaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka
belum mengenal adanya wahyu.
Mengenai sikap terhadap pemikiran
Yunani ada dua:[2]
1. Golongan
yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan
pemikiran orang kafir karena tidak mengakui wahyu.
2. Menerima
filsafat yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan maka
kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan.
Mungkin akal tidak dapat mencapai kebanaran yang sejati. Oleh karena itu, akal
dapat dibantu oleh wahyu.
Masa abad pertengahan
ini terbagi menjadi dua masa yaitu : masa Patristik dan masa Skolastik. Masa
Skolastik terbagi menjadi : Skolastik Awal, Skolastik Puncak, dan Skolastik
Akhir.
B. Periode-periode
pada abad pertengahan
Sejarah
filsafat abad pertengahan dibagi menjadi dua zaman atau periode, yakni periode
pratistik dan periode skolastik .
1.
Periode pratistik (100-700)
Istilah
Patristik berasal dari kata Latin Patres atau Bapak, yang
artinya para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan ahli pikir.[3]
Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sikap yang beragam
pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat Yunani dan ada yang
menerimanya.
Bagi mereka
yang menolak, alasanya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai
sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari
sumber kebenarannya yang lain seperti dari filsafat Yunani. Bagi mereka yang
menerima sebagai alasannya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber
kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat
Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berfikir). Juga, walaupun
filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan
Tuhan. Jadi, memakai/menerima filsafat Yunani diperbolehkan selama hal-hal
tertentu tidak bertentangan dengan agama.
Perbedaan
pendapat tersebut berkelanjutan, sehingga orang-orang yang menerima filsafat
Yunani menuduh bahwa mereka (orang Kristen yang menolak filsafat
Yunani) itu munafik. Akibatnya, muncul upaya
untuk membela agama Kristen, yaitu para apologis pembela iman
Kristen dari serapan filsafat Yunani
Masa
Patristik dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik
Latin (atau Patristik Barat). Bapak Gereja terpenting pada masa
itu antara lain Tertullianus (160-222), Justinus, Clemens dari Alexandria
(150-251), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianza (330-390), Basilus Agung
(330-379), Gregorius dari Nyssa (335-394), Dionysius Areopagita, Johanes
Damascenus, Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus (354-430).
Tertullianus,
Justinus, Clemens dari Alexandria, dan Origenes adalah pemikir-pemikir pada
masa awal patristik. Gregorius dari Nazianza, Basilus Agung, Gregorius dari
Nyssa, Dionysius Areopagita,dan Johanes Damascenus adalah tokoh-tokoh pada masa
patristik Yunani. Sedangkan Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus adalah
pemikir-pemikir yang menandai masa keemasan patristik Latin.
2.
Periode skolastik (800 – 1500)
Zaman
Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah
pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat
dan teologi pada zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari
lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel
Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo
biarawan.
Dengan
demikian, sebutan skolastik berasal dari kata latin scholasticus yang bermakna “murid”. Hal ini
dikarenakan dalam pengajaran filsafat
zaman ini diajarkan pada sekolah-sekolah biara dan
universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan yang bersifat
internasional. Metode yang digunakan pada skolastik ini
adalah disputatio yaitu
membandingkan argumentasi diantara yang pro dan kontra. Namun dalam arti yang
lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu metode tertentu, yakni
“metode skolastik”. Dengan metode in berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara
tajam dan rasional,ditentukan procontra-nya untuk kemudian
ditemukan pemecahannya. Tuntutan kemasukakalan dan pengkajian yang teliti dan
kritis atas pengetahuan yang diwariskan merupakan ciri filsafat Skolastik.
Terdapat
beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.
1.
Filsafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama.
Skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius.
2. Filsafat
skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang
rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada,
kejasmanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian mucul istilah skolastik
Yahudi, skolastik Arab dan lain-lainnya.
3.
Filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran
pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan kedalam bentuk sintesis yang lebih
tinggi antara kepercayaan dan akal.
4.
Filsafat skolastik adalah filsafat nasrani karena banyak dipengaruhi oleh
ajaran-ajaran gereja.
Filsafat
Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor yaitu factor
religious dan factor ilmu pengetahuan. Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi,
pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7
dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan
terhadap Romawi sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang
telah dibangun selama berabad-abad.
Tokoh-tokoh
terpenting masa skolastik adalah Boethius (480-524), Johannes Scotus Eriugena (810-877),
Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Bonaventura
(1221-1274), Singer dari Brabant (sekitar 1240-1281/4), Albertus Agung (sekitar
1205-1280), Thomas Aquinas (1225-1274), Johannes Duns Scotus (1266-1308),
Gulielmus dari Ockham (1285-1349), dan Nicolaus Cusanus (1401-1464).
Masa
skolastik terbagi menjadi tiga periode, yaitu :
1.
Periode
Skolstik awal (800-120)
Sejak abad
ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat patristik mulai merosot. Terlebih
lagi pada abad ke-6 dan 7 dikatakan abad kacau. Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada dibawah Karel Agung ( 742-
814) dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik,
kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termasuk kehidupan manusia serta pemikiran
filsafat yang semanya menampakkan mulai adanya kebangkitan.
Pada mulanya skolastik ini
timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh
ke Jerman dan Belanda. Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi
atau artes liberaes, meliputi tata bahasa, retorika, dialetika
(seni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan musik.
Diantara tokoh-tokohnya adalah
Aquinas (735-805), Johannes Scotes Eriugena (815-870), Peter Lombard
(1100-1160), John Salisbury (1115-1180), Peter Abaelardus ( 1079-1180).
2.
Periode
puncak perkembangan skolastik (abad ke-13)
Masa ini
merupakan kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200 – 1300 dan masa
ini juga disebut masa berbunga. Berikut ini beberapa faktor mengapa masa
skolastik mencapai pada puncaknya.
a.
Adanya pengaruh dari Aristoteles,
Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh
menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
b.
Tahun 1200 didirikan universitas Almamater di
Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater
inilah sebagai awal (embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, Di
Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainnya.
c.
Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo
inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan
sehingga menimbulkan dorongan yang kuat nutuk memberikan suasana yang semarak
pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian dimana
kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran dibidang filsafat dan teologi, seperti
Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D.Scotus, William Ocham.
3.
Periode Skolastik lanjut atau akhir
(abad ke-14-15)
Periode
skolastik Akhir abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang
kearah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak
memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu
hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan
bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat
mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.
Salah
seorang yang berfikir kritis pada periode ini adalah Wiliam dari Ockham
(1285-1349). Anggota ordo Fransiskan ini mempertajam dan menghangatkan kembali
persoalan mengenai nominalisme yang dulu pernah didiskusikan. Selanjutnya, pada
akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk
wilayah Jerman, Nicolaus Cusanus (1401-1464). Ia menampilkan “pengetahuan
mengenai ketidaktahuan” ala Sokrates dalam pemikiran kritisnya:”Aku tahu bahwa
segala sesuatu yang dapat ku ketahui bukanlah Tuhan”. Pemikir yang memiliki
minat besar pada kebudayaan Yunani-Romawi Kuno ini adalah orang yang mengatur
kita memasuki zaman baru, yakni zaman Modern, yakni zaman Modern yang diawali
oleh zaman Renaissans, zaman “kelahiran kembali” kebudayaan Yunani-Romawi di
Eropa mulai abad ke-16.
Zaman akhir skolastik ditandai dengan munculnya
tokoh-tokoh filosofi skolastik Arab. Sebagaimana dijelaskan Salam (1995: 191)
berkat pengaruh Helenisme, filsafat Yunani hidup terus di Siria dan
diperkembangkan lebih lanjut oleh filosof-filosof Arab yang kemudian diteruskan
kembali ke Eropa melalui Spanyol.
Tokoh-tokoh yang termasuk para ahli pikir Islam (pemikir Arab atau Islam
pada masa skolastik) diantaranya Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali,
& Ibnu Rusyd.
Berkat
pengaruh Helenisme (iskandar), filsafat yunani hidup terusdi Siria,
diperkembangkan lebih lanjut oleh filusuf-filusuf Arab, kemudian
diteruskan ke Eropa melalui sepanyol.[4]
a) Alkindi
(800-870) satu-satunya orang arab asli. Corak filsafatnya ialahpemikiran
kembali dari ciptaan Yunani (menterjemahkan 260 buku Yunani) dalam bentuk bebas
dengan refleksinya dengan iman islam
b) Alfarabi
(872-950), filusuf muslim dalam pangkal filsafatnya dari Plotinus.
c) Al-Ghazali
(1059-1111) filusuf besar islam yang mengarang Ihya Ulumuddin, di Spanyol
d)
Ibnu sina
(avicena)(980-1037) yang besar pengaruhnya terhadap filsafat barat, sejak usia
10 tahun sudah hafal Al-Qur’an.
e)
Ibnu Bajjah
(1138), penafsiran karya fisik dan metafisik Aristoteles.
f)
Ibnu Rushd
(Averros) (1126-1198) yang disebut jiga penafsir Arostoteles dan yang sangat
berpengaruh terhadap aliran-aliran di Eropa, jiga seorang filusuf besar Muslim.
g)
Avencebrol
(ibnu Gebol) (1020-1070)
h)
Main monides
(moses bin maimon) (1135-1204)
Hasbullah
Bakry menerangkan bahwa istilah skolastik Islam jarang dipakai di kalangan umat
Islam. Istilah yang biasa dipakai adalah ilmu kalam atau filsafat Islam. Dalam pembahasan antara ilmu kalam dan filsafat Islam biasanya dipisahkan.
Peranan para
ahli pikir Islam tersebut
besar sekali, yaitu sebagai berikut:
a.
Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum pernah mengenal filsafat
Aristoteles sehingga yang dikenal hanya buku Logika Aristoteles.
b.
Orang-orang Barat itu mengenal Aristoteles berkat tulisan dari para ahli pikir
Islam, terutama dari Ibnu Rusyd sehingga Ibnu Rusyd dikatakan sebagai guru
terbesar para ahli pikir Skolastik Latin.
c.
Skolastik Islamlah yang membawakan perkembangan Skolastik Latin.
C. Zaman
Peralihan: 1400-1550
Setelah abad pertengahan berakhir
sampailah pada masa peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang
bersifat pembaharuan. Zaman peralihan ini merupakan embrio masa modern. Masa
peralihan ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi
yang berlangsung antara abad ke-14 hinggake-16 (Anonim,
2012).
a.
Renaissance
Renaissance
atau kelahiran kembali Eropa merupakan suatu gelombang kebudayaan
dan pemikiran yang dimulai di Italia, kemudian Prancis, Spanyol, dan
selanjutnya hingga menyebar ke seluruh Eropa. Di antara tokoh- tokohnya adalah
Leonardo da Vinci, Michaelangelo, Machiavelli,
dan Giordano Bruno.
b.
Humanisme
Humanisme
pada mulanya dipakai sebagai suatu pendirian ahli pikir Renaissance yang
mencurahkan perhatiannya terhadap pengajaran kesusastraan Yunani dan Romawi,
serta perikemanusiaan. Humanisme berubah fungsinya menjadi gerakan untuk
kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra
Yunani atau Romawi. Tokoh-tokoh penganut Humanisme diantaranya Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus, dan Thomas Morre.
c. Reformasi
Reformasi
merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat pada abad ke-16. Revolusi tersebut dimulai dari gerakan terhadap perbaikan keadaan gereja
Katolik. Kemudian berkembang menjadi asas-asas Protestantisme. Para tokoh Reformasi antara lain Jean Calvin dan Martin Luther.
Pemikiran yang ingin menempatkan
manusia pada tempat yang sentral dalam
pandangan kehidupan. Abad pertengahan disebut masa kelam bagi pemikiran
filsafat, kerena kebebasan berpikir manusia telah dipangkas dan didominasi oleh
dogma Gereja. Tetapi justru abad pertengahan menjadi titik balik
bagi munculnya cahaya baru pemikiran filsafat yang ditandai dengan gerakan
Renaisance yang kembali melahirkan budaya berfikir ilmiah. Renaisance inilah
yang menjadi cikal-bakal bagi munculnya pemikiran filsafat modern. Namun pemikiran filsafat modern dengan budaya berpikir ilmiah yang berujung pada
lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir juga memberikan karakteristik negatif berupa menurunya kepercayaan atas
dogma Gereja dan mulai tumbuh masyarakat anti
agama.
Perubahan yang sangat mendasar bagi
corak pemikiran pada abad pertengahan dan modern adalah para filsuf dan ilmuan modern berpikir mengandalkan rasio, mereka bebas
mengungkapkan argumen-argumen tanpa adanya batasan dari otoritas Gereja sehingga filsafat dapat berkembang luas. Teori dan argumen yang diungkapkan
dimasa modern merupakan teori dan argumen terbuka yang bisa menerima kritik, evaluasi, verifikasi, modifikasi ataupun falsifikasi, bukan berupa
dogma-dogma yang kaku dan tidak dapat diubah sebagaimana yang diajarkan pada
abad pertengahan oleh Gereja. Era modern ditandai dengan munculnya ilmu-ilmu praktis, dengan ditemukannya
alat-alat produksi berbasis mesin, juga listrik dan mesin uap. Bahkan ilmu teoritis-spekulatif hampir lumpuh dan tergantikan oleh ilmu-ilmu
praktis yang manfaatannya dapat dirasakan secara langsung oleh manusia. Lahirnya zaman modern tidak bisa lepas dari kontribusi filsuf-filsuf seperti Descartes, Spinoza, Leibniz, John
locke, David Hume, Imanuel Kant, Berkeley, dan Hegel. Masing-masing filsuf tersebut mempunyai corak
pemikiran tersendiri dalam memandang realitas
yang dari pemikiran merekalah filsafat pemikiran modern muncul dan
berkembang pesat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Zaman
pertengahan ialah zaman dimana Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan
adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Abad
pertengahan memiliki sebutan lain misalnya abad kegelapan, jaman skolastik atau
masa patristik, yang semuanya menggambarkan corak pemikiran filsafat dan
keilmuan yang dibentuk sesuai dengan perkembangan peradaban Kristen.
Abad ini
ditandai dengan keruntuhan budaya Romawi dan upaya untuk kembali membangun
peradaban berdasarkan ajaran filsafat Yunani dan ajaran agama Kristen.
Perkembangan ilmu dan filsafat berlangsung di gereja-gereja pada awalnya, untuk
kemudian mengalami perpecahan dikarenakan domininasi kuat agama terhadap
berbagai aspek kehidupan.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan filsafat berlangsung dengan lambat tetapi pasti sejalan
dengan kontak budaya dengan budaya Islam dan semangat untuk kembali pada
kejayaan peradaban Yunani. Masa ini berakhir dengan pemisahan kekuasaan dan
pemikiran antara ajaran agama yang bertahan di gereja dan perkembangan keilmuan
yang mendapat tempat di lembaga sekolah.
DAFTAR
PUSTAKA
Mustansyir,
Rizal. (2009). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset
Salam,
Burhanuddin. (1995). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara
Surajiyo.
(2005). Ilmu filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Muzairi.
(2009). Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras
Petrus,
Simon. (2004). Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius
Tafsir,
Ahmad. (2010). Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suriasumantri,
jujun S. (2009). Filsafat Ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan
Biodata mahasiswa
|
Nama
NIM
Tempat/tanggal lahir
Tempat bekerja/instansi
|
: Fiza Hariani
: 18 2 1 160 139
: Bengkalis, 23- Desember-1990
: UEK Damon
|
|
Nama
NIM
Tempat/tanggal lahir
Tempat bekerja/instansi
|
: Rezky Wahyu
:18 2 1 160 153
: Simpang Ayam, 25 Juni 1995
: UED Desa Meskom
|
|
Nama
NIM
Tempat/tanggal lahir
Tempat bekerja/instansi
|
: Siti aminah
: 18 21 160 160
: Tenggayun, 06 Febuari 1979
: Sekertariat DPRD
|
|
Nama
NIM
Tempat/tanggal lahir
Tempat bekerja/instansi
|
: Sri Hartati
: 18 21 160 163
: Dedap, 10 Desember 1983
: Dinas Ketahanan Pangan
|

Komentar
Posting Komentar